Lari pagi

Sewaktu kau memutuskan untuk pergi, ada yang menusuk jarum suntik di jariku, aku pikir untuk tes golongan darah. Tapi, dia menarik tuasnya, seluruh cairan di tubuhku hilang, ku anggap dia menghilangkan racun, jadi aku diam saja. Aku tidur karena lemas, sampai besok pagi.

Bangun pagi waktu itu tidak ada suka cita, aku minum dua gelas besar untuk mengusir haus. Badanku tidak enak, seperti demam, tapi, semuanya baik-baik saja. Dunia masih berputar, jaringan seluler masih lancar. Aku pergi ke tengah kota, masih bising seperti biasa. Bus masih mengepulkan asap hitam, tukang parkir dengan segala sumpah serapah diberi ratusan perak, tukang rujak langganan masih ingat aku tidak makan pepaya.

Hari kedua, aku diutus ke luar kota, harus berangkat pagi buta. Aku putuskan tidak sarapan, entah kenapa pagi itu pasangan susu cokelat dan omelet keju tidak lagi menggoda. Mereka memberiku tiket perjalanan, aku iyakan saja. Selepas jam makan siang, aku baru tersadar berada di kotamu. Tempatmu menghirup udara pagi, lalu melepas penat di ujung hari.


Aku sempat tertidur sejenak dengan batin yang tidak enak. Tiga pagi, dadaku sesak, sakit sekali, seperti ada yang melubangi lalu menjepit paru-paru, dan menarik jantung.

Pagi ketiga, aku bohongi Adia, ku rayu dia dengan kue cokelat dan teh kesukaannya. Dia bilang, nanti semuanya baik-baik saja. Aku bersikeras sehat, lalu Adia menggenggam erat, sambil berjanji minggu depan gilirannya mentraktir kue cokelat. 

Ah ya ternyata Adia benar, aku sakit. Aku menghabiskan waktu liburku seharian bersin-bersin, membersit hidung, kepala pening sampai lidahku pahit. Sup hangat dan selimut setia menemani hari itu.

Hari kelima, masih penat dan mata sepat, aku hela badan sepagi mungkin. "Ayo lari pagi!" kataku pada diri sendiri. Di taman, banyak orang sepertiku, mencari setetes keringat demi hidup seimbang di ibu kota.

Aku melihatmu! Sumpah aku melihatmu! Berlari pakai kaus putih, celana pendek hitam dan kacamata hitam bertengger di hidungmu. Tapi, pagi ini, aku tidak ingin bercakap, jadi aku putar arah supaya tidak perlu berpapasan denganmu. Aku malas mengobrol denganmu kalau sedang tidak sehat begini.

Aku naiki jembatan, supaya bisa pindah ke jalur seberang. Masih saja aku melihatmu, yang sedang mengagumi kerumunan bebek melintas. Aku yakin 100% tidak salah lihat, tapi aku sedang ingin olah raga pagi, berlari. 15 menit berpeluh, ada kenyataan yang menyeruak tajam... Mana mungkin orang mati bisa lari pagi...

#ceritakependekan

Comments